Kisah Zainab Putri Rasulullah SAW, Kisah Cintanya Terhadap Islam dan Suaminya di Kenang Sepanjang Masa

Lima belas abad sudah berlalu dari kematian Zainab, namun sosok Zainab meninggalkan kenangan yang harum sepanjang sejarah baik kesetiaan, ketulusan maupun keteguhan imannya. Zainab dilahirkan 30 tahun setelah kelahiran Rasulullah saw. Ketika usianya menginjak dewasa, datanglah bibinya Haalah binti khuwaid (saudari Khatihah binti kuwailid) guna melamarnya untuk putranya yaitu Abul Ash ibnu Rabi. Setelah kedua belah pihak saling menyetujui maka dilangsungkanlah akad nikah.

kisah cinta zainab

Di hari pernikahan Zainab dengan Abul Ash, tampak Khadijah turut bersuka cita atas pernikahan mereka berdua dan menghadiahkan kalung yang dipakainya untuk disematkan ke leher Zainab sebagai kado pernikahannya. Perlu digaris bawahi bahwa pernikahan tersebut berlangsung srbelum turunnya wahyu kepada Rasulullah. Ketika cahaya wahyu datang menyinari bumi, Zainab termasuk salah seorang yang beriman, sedangkan suaminya tidak mudah begitu saja melepaskan agamanya yang lama. Hubungan pasangan ini pun terancam retak dengan sebuah kekuatan, yakni perbedaan agama yang dapat mengalahkan cinta mereka.

Pada saat Abul Ash bersikeras mempertahankan agamanya yang lama seraya berkata, "Wahai Zainab, kita tidak bisa berharap banuak dari hubungan kita, jika kamu bersama agamamu dan saya tetap dengan agama saya." Zainab pun teguh dengan pendiriannya seraya berkata, "Wahai suamiku, tidak ada pilihan lain selagi kamu tetap teguh dengan agamamu. Pulangkan saja aku pada ayahku atau masuk islam bersamaku. Karena Zainab sudah tidak halal lagi bagimu kecuali jika kamu mau beriman sebagaimana aku." Di tengah suasana yang cukup dilematis, tiba-tiba terdengar bisikan yang berkata, "Meskipun agama telah memisahkan raga mereka, tapi cinta mereka akan tetap kekal sampai suatu saat nanti agamalah yang akan menyatukan mereka." Perpisahan di antara keduanya pun akhirnya tidak bisa dielakkan lagi dan hari teris berlalu sampai datang wakti hijrah Rasulullah saw ke Madinah dimana Zainab termasuk rombongan dari kaum Muhajirin.

Pada suati hari datanglah kaum Quraisy ke Badar untuk berperang dengan Rasulullah. Abi Ash datang bukan untuk mengokrarkan islamnya, melainkan datang bersama barisan Quraisy yang memerangi Rasulullah saw. Peperangan pun terjadi dengan kemenangan kaum muslimin. Setelah peperangan berakhir, keadaan semakin keruh ketika Abul Ash termasuk salah seorang tawanan kaum muslimin. Pada saat orang-orang Quraisy menebus tawanan-tawanan tersebut dengan harta benda, Zainab pun mengirim harta dan kalung (pemberian dari ibunya Khadijah) nya untuk menebus suaminya, Abul Ash ibnu Rabi. Ketika Rasulullah saw melihat kalung tersebut, hati beliau terenyuh seraya berkata kepada para sahabatnya, "Kalau kalian berpendapat untuk membebaskan tawanan Zainab dan mengembalikan uang tebusannya maka lakukanlah." Para sahabat menjawab, "Baik, wahai Rasulullah." Dibebaskanlah Abul Ash dan mengembalikan uang tebusan dari Zainab.

Sebelum berangkat ke Mekkah, Rasulullah saw  mengambil janji dari Abul Ash untuk membiarkan Zainab kembali kepadanya ke Madinah. Dalam perjalanannya menuju Mekkah, tampak jelas bagi Abul Ash,ketulusan dan kemuliaan istrinya. Sosok istri yang mengorbankan apa yang dimilikinya untuk menebus sang suami tercinta. Kendati demikian, tidak sepatah pun kata terima kasih keluar dari mulut Abul Ash setibanya mereka di Mekkah. "Sekarang tiba waktunya kamu harus kembali ke ayahmu Zainab." Itulah kata-kata yang sempat terucap dari mulut Abul Ash sebagaimana janjinya kepada Rasulullah saw. Di ujung pertemuan yang mungkin kali terakhir itu, Abul Ash tidak kuasa menahan uraian air mata yang membasahi pipinya. Siapa yang sanggup berpisah dengan orang yang paling dicintai. Perpisahan yang seharusnya tidak terjadi apabila tidak ada "jurang agama" yang membatasi antara keduanya.

Sementara itu Zaid bin Haritsah dan seorang dari Anshar telah menunggu kedatangan Zainab di luar kota Mekkah. Sedang yang mengantar Zainab sampai batas luar kota Mekkah adalah Kinanah Ibnu Rabi. Sebelum melepas kepergian Zainab, Abul Ash berpesan kepada adiknya, "Wahai adikku, engkau tahu betapa aku sangat mencintainya, tidak ada wanita Quraisy yang saya cintai kecuali dia. Sungguh sangat berat bagi saya untuk berpisah dengannya. Antarkan dia sampai di luar kota tempat utusan Muhammad telah menunggu di sana. Jagalah dia sebagaimana engkau menjaga saudara kandungmu, jaga dan lindungi dia sampai titik darah penghabisanmu."

Pada saat itu Zainab sedang berkemas-kemas untuk berangkat, datanglah Hindun binti Utbah lalu berkata, "Wahai putri Muhammad, saya dengar kamu akan berangkatmenemui ayahmu." Zainab menjawab, "Tidak, saya tidak berangkat." Hindun kembali berkata, "Wahai putri pamanku, jangan kau urungkan niatmu (untuk berangkat). Kalau memang kamu membutuhkan bekal untuk kamu bawa selama perjalanan, saya telah menyiapkannya dan jangan segan-segan untuk menerimanya. Tidak baik menolak pertolongan sesama wanita." Zainab berkata (dalam hatinya), "Demi Allah, saya tidak menyangka dia (Hindun) mengatakan hal itu. Akan tetapi lantaran takut kepadanya, saya tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya bahwa saya benar-benar mau berangkat."

Setelah selesai berkemas, datanglah adik iparnya, Kinanah dengan membawa seekor unta. Berangkatlah Zainab siang hari itu di bawah pengawalan adik iparnya yang melengkapi dirinya dengan panah dan busurnya. Namun, apakah kaum Quraisy Mekkah membiarkan Zainab pergi begitu saja, setelah mereka kalah dalam perang Badar? Tidak. Berita tentang pemberangkatan Zainab ternyata sudah tersebar dan kaum Quraisy pun segera membuntutinya dan bertemu di Wadi Thua. Habbar ibnul Aswad bin Muthalib dan Nafi bin Abdul Qais adalah orang yang pertama kali menjumpai Zainab, dan pada saat itu juga Habbar mengarahkan tombakya ke arah tandu yang membawa Zainab yang pada saat itu dia sedang hamil. Zainab terjatuh dan darah pun mengucur dari perutnya akibat terjatuh itu.

Melihat hal itu, Kinanah tidak ambil diam dan dengan membsurkan anak panahnya, dia menantang orang-orang yang mengepungnya seraya berkata, "Demi Allah, kalau ada yang berani mendekat, akan saya panah." Ancaman itu pun cukup menggetarkan orang-orang di sekitarnya, lalu datanglah Abu Sufyan di sela-sela kerumunan orang Quraisy seraya berkata,"Wahai Kinanah,masukkan kembali anak panah tersebut ke sarungnya, dengarkan apa yang saya katakan." Setelah Kinanah menyarungkan anak panahnya datanglah Sufyan mendekatinya lalu berkata, "Sesungguhnya tindakanmu membawa seorang wanita di tengah-tengah kaum lelaki secara terang-teranan adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Yang demikian itu termasuk penghinaan dan pelecehan bagi kami. Sungguh tidak sedikit pun terbetik dalam diri kami keinginan untuk mnwannya lantaran dendam (atas kekalahan), melainkan kami ingi kamu kembali bersama wanita itu dan berangkat dengannya menunggu malam tiba."

Dan ketika malam tiba, berangkatlah Kinanah mengantarkan kakak iparnya sampai batas kota Mekkah untuk diserahkan kepada Zaid bin Haritsah dantemannya. Ketika sampai di Madinah diserahkanlah Zainab kepada Rasulullah saw. Sejak saat itu terpisahlah kedua pasangan tersebut dan sulit bagi mereka untuk bisa bertemu lagi. Dengan perasaan gundah dan luka, Abul Ash yang berada di mEkkah hanya bisa meratapi dan merenungi nasibnya. Sementara Zainab yang raganya berada di Madinah, hatinya sulit untuk dipisahkan dengan sang suami tercinta. Tahun demi tahun terus berlalu sehingga datang suatu hari ketika Abul Ash bepergian ke Syam (Suriah) untuk urusan perniagaan, di tengah perjalanan pulang dari Syam dia bertemu tentara Sariah Rasulullah saw yang merampas semua hartanya termasuk harta orang yang dibawanya. Sulit bagi Abul Ash untuk bisa mengambil harta itu kembali.

Di tengah kegelisahan Abul Ash dalam mencari solusi untuk bisa mengambil harta itu kembali dari tentara Sariah Rasulullah saw dia teringat Zainab, sang istri yang pernah membebaskannya. Datanglah Abul Ash ke Madinah untuk meminta suaka sekaligus bantuan Zainab dalam mengembalikan hartanya. Zainab pun memberi suaka kepadanya, dan di pagi hari ketika Rasulullah dan para sahabat seang shalat subuh, tiba-tiba terdengar suara dari bilik tembok berbicara, "Wahai para jama'ah, seesungguhnya saya telah memberi suaka kepada Abul Ash Ibnu Rabi dan dia sekarang berada dalam perlindunganku." Suara itu ternyata dalah suara Zainab. Setelah menunaikan shalat, Rasulullah saw berdiri di depan jama'ah lalu berkata, "Wahai jama'ah apakah kalian mendengar apa yang telah saya dengar. Sesungguhnya ada seseorang di belakang kalian yang memberi suaka kepada orang lain." Kemudian Rasulullah masuk ke dalam rumah menemui putrinya, "Hormatilah posisinya, jangan sampai dia berbuat sekehendaknya. Sesungguhnya kamu tidak halal baginya selama dia masih musyrik."

Pada saat itu Rasulullah saw tertegun salut akan putrinya yang begitu setia terhadap suaminya yang ditinggalkannya karena perintah Allah SWT. Bukan hanya itu, Zainab juga harus menahan hasrat nafsunya sebagai seorang istri karena perintah Allah. Namun kendati demikian, Zainab telah mencurahkan kesetiaan,kasih sayang, dan pertolongan kepada suaminya.

Di hadapan para sahabat, Rasulullah saw kemudian bersabda, "Sebagaimana yang telah kalian ketahui, sesungguhnya laki-laki ini (Abul Ash) adalah bagian dari (tawanan) kita yang kalian telah berhasil merampas hartanya. Namun, jika kalian berbuat baik kepadanya dengan mengembalikan hartanya, kami sangat senang sekali. Akan tetapi jika kalian tidak mau (mengembalikan hartanya), itu adalah harta rampasan yang Allah berikan kepada kalian dan kalian lebih berhak atas harta itu." Para sahabat pun menjawab, "Tidak Rasulullah, melainkan kita kembalikan harta itu kepadanya." Tiba-tiba seorang dari sahabat berkata, "Wahai Abul Ash, bagaimana jika anda masuk islam sehingga kamu bisa mengambil seluruh harta itu untukmu, toh harta itu milik orang-orang musyrik." Seketika itu pula Abul Ash menjawab, "Alangkah kejinya aku harus memulai islamku dengan mengkhianati amanat yang ditanggungkan ke pundakku."

Akhirnya para sahabat mengembalikan harta itu kepada Abul Ash sebagi rasa hormat mereka kepada Rasulullah saw serta atas Zainab. Pulanglah Abul Ash membawa haeta tersebut dengan meninggalkan kesan yang begitu mendalam akan keagungan islam. Setibanya di Mekkah Abul Ash langsung membagikan harta tersebut kepada yang berhak. Setelah selesai membagikan, dia berdiri dan berkata, "Wahai kaum Quraisy, apakah masih ada harta kalian bersamaku?" Mereka menjawab, "Tidak, semoga Allah membalas kebaikanmu. Sungguh engkau adalah orang jujur dan mulia." Pada saat itu pula Abul Ash mengikrarkan islamnya seraya berkata, "Maka saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Sesungguhnya tidak ada yang menghalangi saya untuk masuk islam ketika saya datang ke Rasulullah untuk mengambil harta tersebut kecuali hanya kekhawatiran saya akan omongan para sahabatnya yang mungkin mengira bahwa islam saya hanya alasan untuk bisa memakan harta kalian. Ketika Allah memberikan harta itu (melalui saya) kepada kalian dan saya tidak ada urusan lagi dengan harta itu, maka tidak ada lagi penghalang bagi saya untuk masuk islam."

Setelah masuk islam berangkatlah Abul Ash menuju Madinah untuk bertemu istirnya Zainab dengan membawa kabar baik bahwa ia telah masuk islam, dan bertemulah kembali dua pasangan yang saling mencintai itu setelah sekian lama berpisah. Namun, tidak lama setelah pertemuan tersebut, datanglah ajal menjemput Zainab, sang istri tercinta yang telah memberikan kasih sayang dan ketulusannya kepada sang suami tercinta. Rasulullah saw sangat berduka atas kematian putrinya tersebut.

Zainab meninggal pada tahun 8 Hijriyah dengan meninggalkan sejuta kenangan harum. Sejarah mencatatnya sebagai sosok istri yang setia, tulus dan teguh keimanannya. Suatu hari dalam perjalanannya menuju Syam, suaminya pernah memujinya dengan syair berikut : "Wahai putri Amin (Rasulullah saw) semoga Allah memberimu kesejahteraan, setiap suami pasti akan memuji segala yang ada pada dirimu."

Baca juga Fathimah binti Rasulullah saw adalah pemimpin bagi seluruh wanita di surga.

* Bismillah...wellcome to Postart Alifah
* View web version untuk berkomentar, bagi yang menggunakan smartphone
* Berkomentarlah dengan bijak, and have I nice day

ARTIKEL MENARIK LAINNYA