Nama-nama Wanita Muslimah Teladan Sebagai Putri

Nama Wanita Muslimah Teladan Sebagai Putri

ASMA' BINTI ABU BAKAR ASH SHIDIQ
Dialah sosok wanita pejuang yang mulia, cerdas, dan tidak mudah menyerah. Dilahirkan 27 tahin sebelum Hijrah. Usianya sepuluh tahun lebih tua dari Aisyah r.a, saudarinya seayah (lain ibu), sedangkan Abdullah bin Abu Bakar adalah saudara kandung Asma'. Asma mendapat julukan "Dzatun Nithaqaini" wanita yang mempunyai dua selendang karena telah menyobek selendangnya menjadi dua helai. Satu helai untuk tempat makanan Rasulullah saw dan satu helai lagi untuk menutupi wajahnya. Peristiwa itu terjadi pada malam hijrah dimana Rasulullah dan Abu Bakar sedang bersiap-siap menuju gua Tsuur.

Ketika terjadi peperangan antara kaum muslimin dan penduduk Syam, penduduk Syam mengejek Abdullah Ibnu Zubair (putra Asma') dengan julukan ibunya "Dzatun Nithaqaini". Ketika Abdullah mengadukan hal tersebut kepada ibunya, dia membenarkan apa yang dikatakan mereka. Demikian juga yang dikatakan Asma' saat Al Hajjaj berkata, "Saya pernah mendengar putramu dipanggil dengan sebutan "Dzatun Nithaqaini" benarkah itu?" Asma menjawab, "Benar, dulu saya mempunyai selendang sebagaimana wanita yang lain. Pada malam hijrah, selendang tersebut saya sobek menjadi dua helai. Satu helai untuk menutupi makanan Rasulullah dan satu helai lagi untuk saya pakai sebagai keharusan bagi wanita."

Asma masuk islam pada saat dia masuh di Mekkah, setelah 17 orang sahabat masuk islam terlebih dahulu. Dia juga termasuk salah seorang wanita yang membaiat Rasulullah saw. Di antara kepribadian Asma' yang islami, yaitu pada suatu hari ketika Qutailah binti Abdul Uzza bekas istri Abu Bakar yang dicerainya pada masa jahiliah datang ke Zainab untuk memberinya hadiah berupa kismis, mentega dan anting-anting. Namun, Asma' ragu menerima hadiah tersebut, bahkan ragu mempersilahkan Quthailah masuk rumah. Kemudian Asma' mengutusa Aisyah ke Rasulullah guna menanyakan hal tersebut kepada beliau. Tidak lama kemudian Aisyah datang dan berkata, "Hendaknya Asma' menerima hadiah tersebut dan mempersilahkan Quthailah untuk masik rumah."

Contoh lain dari kepribadian Asma yang patut di teladani yaitu ketika Abu Bakar r.a membawa seluruh hartanya sekitar lima sampai enam ribu dirham pada saat hijrah dengan Rasulullah saw. Setelah abu Bakar pergi datanglah Abu Quhafah kakek Asma' yang buta ke rumah Asma' dan berkata, "Demi Allah, saya telah mendengar bahwa Abu Bakar telah meninggalkanmu pergi dengan seluruh hartanya." "Tidak demikian wahai kakekku. Sesungguhnya dia telah menyisakan buat kami harta yang banyak," jawab Asma' sambil mengambil beberapa kerikil batu diletakkan di lubang dinding, tempat dimana Abu Bakar biasa menaruh uangnya di siru. Setelah menutupi kerikil terswbut dengan sehelai kain, Asma' mengambil tangan kakeknya unyuk diusapkan ke tumpukan kerikil yang ditutupi kain tersebut seraya berkata, "Sekarang, usapkan tangan kakek di atas harta ini." Pada saat itu kakeknya berkata, "Kalau memang dia telah meninggalkan harta buat kamu, sesungguhnya yang demikian itu hal yang baik." Apa yang dilakukan Asma' terhadap kakeknya hanya untuk menyenangkan hati kakeknya. Padahal Abu Bakar sama sekali tidak meninggalkan sesuatu pun buat keluarganya.

Pada saat Zubair ibnu Awwam menikahi Asma', Zubair tidak mempunyai apa pun, baik tanah, harta maupun budak kecuali hanya seekor kuda yang oleh Asma' selalu diberi makan, dirawat bahkan sesekali dimandikan. Zubair terkenal dengan ketegasannya termasuk dengan istrinya sehingga suati hari Asma' datang ke ayahnya guna mengafukan perihal suaminya. Dengan bijaksana ayahnya berkata, "Bersabarlah wahai putriku, sesungguhnya apabila seorang istri yang ditinggal mati suami yang shaleh dan istri tersebut tidak menikah lagi setelahnya, Allah akan mengumpulkan kedua pasangan tersebut (nanti) di surga." Suatu hari datanglah Asma' menemui Rasulullah saw dan bertanya, "Wahai Rasulullah, tidak ada sesuatu yang berharga di rumah saya kecuali apa (kuda) yang dibawa Zubair. Bolehkah saya memberikan sebagian pendapatan saya kepadanya?" Rasulullah menjawab, "Berikanlah sebatas kemampuanmu dan jangan bakhil sehingga orang lain bakhil kepadamu."

Asma binti Abu Bakar adalah salah satu wanita yang terkenal akan kemurahan hatinya sebagainana yang dikatakan Abdullah ibnu Zubair, "Saya tidak pernah melihat wanita sebaik Aisyah dan Asma', meskipun sisi kebaikan mereka berbeda. Kalau Aisyah dia tidak akan menginfakkan hartanya kecuali harta tersebut sudah terkumpul. Sedang Asma' dia tidak pernah memegang sedikit persediaan harta untuk besok hari (selalu menginfakkan apa uang dimilinya hari itu)."

Dalam kancah peperangan, peran Asma' pun tidak bisa diremehkan terutama pada pwrang Yarmuk, yakni ketika dia berjuang bersama suaminya Zubair ibnu Awwam. Pada saat terjadi fitnah di masa Said bin Ash, Asma' bersiap-siap dengan sebilah pisau besar di tangannya. Ketika ditanya, "Apa yang akan anda perbuat dengan pisau itu?" Asma menjawab, "Apabila ada pencuri yang masuk aka saya tusuk perutnya dengan pisau ini." Pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, Asma' mendapat hadiah sebesar seribu dirham dari khalifah.

Dalam periwayatan hadist, Asma' juga meriwayatkan hadist dari Rasulullah sebanyak 58 hadist, dalam riwayat lain dikatakan sebanyak 56 hadist. Asma' adalah wanita pemurah dan mulia, dia tidak sempat meyimpan hartanya untk esok hari dan sering memelihara orang sakit serta membebaskan para budak di tangannya.

Kata-kata berikut ini akan menerangkan kita tentang keteguhan,kemuliaan dan keberanian Asma' yaitu kata-kata yang diucapkannya kepada putranya. Saat itu Asma' sudah dalam keadaan buta karena usianya yang sudah menginjak 100 tahun. Suatu hari putranya Abdullah mendatanginya, Abdullah berkata, "Wahai ibuku, orang-orang telah mengecewakanku dalam medan perjuangan, demikian juga keluargaku,maka bagaimana pendapatmu?", Asma menjawab, "Teruskanlah perjuanganmu. Jangan biarkan bocah-bocah Bani Ummayah mempermainkanmu. Hiduplah dalam keadaan mulia dan matilah dalam kemuliaan pula. Demi Allah, saya berharap kamu akhiri kehidupan ini dengan baik."

Setelah mendengar nasihat ibunya, berangkatlah Abdullah berjuang di medan perang sampai terbunuh. Dikisahkan bahwa Al Hajjaj dari Bani Ummayah bersumpah tidak akan menurunkan jenazah Abdullah dari panggung sampai ibunya memohon kepada Al Hajjaj agar menurunkan jenazah putranya. Setelah berlalu selama setahun kemudian ibunya lewat di bawah panggung tersebut seraya berkata, "Sekarang bukankah sudah tiba waktunya untuk merunkan jenazah ini." Setelah jenazah Abdullah dimakamkan, Al Hajjaj berkata kepada Asma', "Bagaimana pendapatmu tentang apa yang saya perbuat pada anakmu?" Asma menjawab, "Engkau telah merusak dunianya, dan dia (anakku) telah merusak akhiratmu!". Asma meninggal di Mekkah dalam usia 100 tahun dengan kondisi gigi yang masih lengkap dan akal yang tidak pikun. Akhirnya Abdullah mati syahid berkat didikan luhur seorang iuteladan. Kisah mereka berdua masih terus mewarnai lembaran-lembaran sejarah yang mencatat orang-orang yang kekal.

DURRAH BINTI ABU LAHAB BIN ABDUL MUTHALIB (PUTRI PAMAN NABI SAW)
Tidak banyak diketahui  tentang dirinya sebelum masuk islam, yang jelas setelah masuk islam dan berhijrah, Durrah termasuk dari sahabat wanita Rasul yan begitu mulia akhlaknya. Berbicara tentang Durrah bini Abu Lahab, Imam Adzahabi mengatakan bahwa ada satu hadist yang berkenaan dengannya dalam musnad dari riwayat anak pamannya, Al Harits bin Naufal yaitu, hadist yang juga dituturkan oleh Ibnu Hajar dalam Ishabah nya bahwa Durrah ketika tiba di Madinah tatkala hijrah, turun di kampung Rafi' bin Al Ma'la lalu berkata kepadanya para waita dari Bani Zuraiq, "Kamu adalah anak Abu Lahab yang Allah berkata kepadanya, Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan celaka. Maka buat apa lagi hijrah kamu?" Mendengar hal itu Durrah mendatangi Rasulullah saw dan meceritakan apa yang dilaminya. Lalu Rasulullah berkata (kepadanya), "Duduklah!" Tidak lama kemudian beliau shalat Dzuhur dan duduk di atas mimbar selama satu jam seraya berkata, "Wahai manusia sekalian, mengapa saya dicela dalam keluarga saya? Demi Allah, sesungguhnya syafaatku (pengampunan) akan didapat oleh kerabatku sampai orang yang keras, lemah bahkan besar akan mendapatkannya mereka pada ahri kiamat."

Adaruquthni meriwayatkan dalam kitabnya, bab UKhuwah dan Ibnu Uday dalam Al Kamil dan Ibnu Mundih dari Durrah binti Abu Lahab bahwasannya Rasulullah saw bersabda, "Seorang yang hidup itu tidak menanggung derita lantaran kejelekan yang diperbuat orag yang sudah mati." Berkaca dari riwayat tersebut, hendaknya kita selalu menghormati orang yang telah mendahului kita meskipun orang tersebut sangat memusuhi kita.

UMMU KULTSUM UQBAH BIN ABU MU'ITH
Kehidupannya adala aplikasi pengorbanan dan jihad fiisabilillah. Ibnu Sa'ad berkata dalam Thabaqat nya bahwa dialah orang yang pertama hijrah ke Madinah setelah hijrah Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Sepanjang sejarah, tidak ada wanita Quraisy yang keluar diantara kedua orang tuanya (tanpa seizin mereka) untuk berhijrah menuju Allah dan Rasul Nya kecuali Ummu Kultsum.

Dia keluar dari Mekkah sendirian,lalu ditemani oleh seorang laki-laki dari Bani Khuza'ah sampai tiba di Hudnah. Selang dua hari dari kedatangan Ummu Kultsum di Madinah, datanglah kedua saudaranya (Walid dan Imarah) untuk  meminta kembali saudari mereka (Ummu Kultum) kepada Rasulullah saw. Mereka berkata kepada rasulullah, "Wahai Muhammad, tepatilah janji yang telah kita sepakati dulu," Lalu Ummu Kultsum berkata, "Wahai Rasulullah, saya wanita yang lemah. Kalau saya hijrah bersama kaum laki-laki, saya takut mereka akan memfitnah saya dalam agama saya, sedang saya tidak sabar (untuk segera berhijrah)." Maka Allah menghapus perjanjian tentang wanita dan menurunkan ayat ujian (Al Mumtahanah : 10-11). Dengan ayat tersebut, Rasulullah saw menghukumi masalah Ummu Kultsum, dan para sahabat akhirnya bisa menerima keputusan yang diambil oleh Rasulullah.

Dengan ayat tersebut Rasulullah saw menguji Ummu Kultsum dan wanita lain yang datang, "Benarkah motivasi dari hijrah kalian adalah cinta karena Allah dan Rasul Nya serta islam, bukan lantaran suami dan harta?" Bila mereka mengiyakan pertanyaan tersebut maka kedatangan kalian ditolak. Jawaban dari pertanyyan tersebut pun bervariasi, Ada yan mejawab menurut sebaian riwayat, "Saya tidak keluar (hijrah) kecuali hanya karena cinta kepada Allah dan Rasul Nya. Saya tidak keluar lantaran mengejar harta dan benci suami." Atau jawaban tersebut bisa berupa kalimat syahadat (saya bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).

Pada saat di Mekkah, Ummu Kultsum belum mempunyai suami. Setibanya di Madinah (setelah hijrah) dia diperistri oleh Zaid kemudian oleh Abdurrahman bin Auf. Sepeninggal Abdurrahman datanglah Ibnu Ash menikahinya sampai dia (Ummu Kultsum) meningal. Dalam Ishabah, sebagimana dalam riwayat Ibnu Mundih, Umar bin Khatab pernah bertanya kepada Ummu Kultsum binti Uqbah, istri Abdurrahman bin Auf, "Apakah benar Rasulullah pernah berkata kepada anda nikahlah dengan pemimpin kaum muslimin, Abdurrahman bin Auf?" Dia (Ummu Kultsum menjawab, "Ya."

Dalam periwayatan hadist, Ummu Kultsum juga meriwayatkan sepuluh hadist dari Rasulullah saw, satu di antaranya termasuk hadist Muttafaq'alaih. Imam an Nasa'i dalam sunan al Kubra juga meriwayatkan hadist darinya tentang keutamaan surah al Ikhlas.

Demikianlah sosok kepribadian dan keutamaan Ummu Kultsum binti Uqbah yang telah beriman terlebih dahulu sebelum keluarganya. Ia korbankan masa remajanya, ia tinggalkan keluarga dan kampung halamannya, ia tempuh ganasnya padang pasir antara Mekkah-Madinah demi sebuah cinta, cinta Allah dan Rasulnya. Jawaban Ummu Kultsum saat ditanya Rasulullah saw tentang motivasi hijrahnya hendaknya menjadi stimulus dan penerang bagi muslimah di zaman sekarang dalam setiap langkahnya.

KHANZA BINTI KHADZAM
Sebagai seorang putri, islam memposisikan wanita sebagaimana layaknya. Bersama-sama suami, dia juga bertanggung jawab atas urusan rumah tangga. Bahkan di luar urusan rumah tangga, seorang istri pun harus membantu suaminya. Tidak benar jika islam dianggap mengekang kebebasan wanita. Bahkan sejak dini islam telah memberikan kebebasan kepada kaum wanita, kebebasan dalam menentukan calon suami, kebebasan berpendapat dan sebagainya. Makanya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa islam dalam hal kebebasan berpendapat, lebih mendengarkan pendapat kaum wanita daripada kaum laki-laki.

Bahkan sampai diambang pintu perceraian, islam masih menghormati kedudukan seorang wanita. Misalnya jika seorang suami memutuskan hubungannya dengan istrinya (cerai) sebelum digauli (dijima), suami harus membayar setengah mahar yang telah ditentukan. Namun, jika suami mencerai istrinya setelah digauli, si suami harus membayar mahar itu secara utuh. Dan pada saat itu si suami tidak bisa semena-mena berkata, "Dari sisi keturunan dan kedudukan, dia (si istri) masih di bawahku."

Seorang wanita hendaknya harus memahami betul arti sebuah pernikahan yang seharusnya dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang tanpa ada sedikitpun unsur penipuan atau paksaan. Oleh karena itu, seorang wali tidak berhak memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Atas dasar itulah Rasulullah saw mengurungkan pernikahan Khansa binti Khadzam al Anshari yang dipaksa ayahnya untuk menikah dengan orang yang tidak diinginkannya.

Khansa adalah keturunan Bani Amru bi Auf bin Aus. Ketika masih belia, dia bertemu dengan Nabi saw pada saat datang ke Madinah (hijrah). Dia juga meriwayatkan beberapa hadist dari Rasulullah saw. Dia dilamar oleh dua orang yaitu pertama oleh Abu Lubabah bin Mundzir, salah seorang pahlawan pejuang dari sahabat Nabi. Kedua, seorang dari Bani Amr bi Auf (kerabatnya). Khansa sendiri tertarik dengan Abu Lubabah, sedangkan ayahnya lebih tertarik dengan anak pamannya itu. Akhirnya demgan terpaksa Khansa dinikahkan dengan anak pamannya itu. Datanglah Khansa kepada Rasulullah saw seraya berkata, "Sesungguhnya bapak saya telah memaksa saya untuk kawin dengan orang yang diinginkannya, sedang saya sendiri tidak mau." Maka Rasulullah bersabda, "Tidak ada nikah dengannya, kawinlah engkau dengan orang yang kamu cintai." Lalu dia kawin dengan Abu Lubabah.

Para ahli hadist silang pendapat tentang status Khansa saat perkawinannya (kedua) dengan Abu Lubabah. Dalam riwayat al Muwathta dan Atsauri menuturkan bahwa Khansa saat pernikahan kedua masih perawan. Sedangkan riwayat Bukhari dan Ibnu Sa'ad mengatakan bahwa saat pernikahan kedua dia sudah janda karena Khansa pernah berkata kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulullah sesungguhnya paman anak saya (yaitu suami Khansa pertama) lebih suka kepada saya," lalu Rasulullah menyerahkan urusan Khansa sepenuhnya kepada dirinya.

Perkataan Khansa pada riwayat di atas mengatakan, "...sesungguhnya paman anak saya..." mengindikasikan bahwa dia sudah mempunyai anak dari pernikahannya yang pertama. Hal ini ditopang riwayat Syamsul A'immah Assarkhasyi dalam kitabnya al Mabsuth terdapat sebuah hadist Khansa binti Khadzam sebagai berikut.

Khansa berkata, "Sesungguhnya bapak saya memaksa saya untuk menikah dengan keponakannya." Nabi saw berkata, "Laksanakan saja apa yang dimaui bapakmu!" Dia kembali berkata, "Saya tidak suka dengan hal tersebut." Rasulullah berkata, "Pergilah dan nikahlah kanu dengan orang yang kamu sukai." Lebih lanjut Khansa menuturkan, "Saya tidak menolak apa yanh dimaui oleh bapak saya,.namun saya ingin agar orang-orang tahu bahwa bapak-bapak tidak boleh ikut campur dengan anaknya dalam masalah ini."

Riwayat di atas mengindikasikan bahwa Khansa tidak langsung bercerai dengan suaminya, melainkan dia sempat tinggal beberapa waktu dengan suami pertamanya. Karena Khansa sebagaimana dituturkan oleh penulis al Mabsuth tetap melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk tetap bersama suaminya (yang pertama).

Berbicara tentang Khansa, mengingatkan kita pada seorang sahabat wanita Rasul yang bernama Barirah yang mempunyai kisah yang hampir sama dengan Khansa. Dia adalah orang Habasyah. Tuannya bernama Utbah bin Abu Lahab yang mengawinkannya dengan seorang budak dari Mughirah. Namun demikian, sebenarnya Barirah tidak rela dijidhkan dengan budak tersebut seandainya dia berhak menolak. Hal itu diketahui oleh Aisyah, maka dibelilah Barirah dan dibebaskannya. Setelah bebas, Rasulullah saw berkata kepadanya, "Kamu telah berhak atas dirimu maka kamu bebas memilih!"

Pada saat yang sama, sang suami yang ternyata membuntuti Barirah sambil menangis memelas kasihnya, namun Barirah tidak menghiraukannya. Melihat hal itu, Nabi saw berkata kepada para sahabatnya, "Tidakkah kalian takjub akan kebesaran cinta suaminya kepadanya meskipun istrinya begitu membencinya." Kemudian beliau berkata kepada Barirah, "Takutlah kepada Allah, sesungguhnya dia adalah suamimu dan bapak dari anakmu." Barirah berkata, "Apakah baginda Rasul menyuruh saya?" Rasulullah menjawab, "Saya cuma menyarankan saja." Dia berkata, "Kalau begitu saya tidak ada kepentingan dengannya."

Berkaca dari kisah di atas, kita tidak boleh heran jika ditemukan seorang gadis menentang kesewenang-wenangan yang ia terima dari ayah maupun walinya. Karena menyepelekan pendapat seorang anak dan menikahkannya dengan orang yang tidak sehati lantaran mengejar materi dan harta adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Sekali lagi, hendaknya seorang ayah berfikir lebih jernih dalam hai ini karena kawin paksa sama halnya memikulkan beban penderitaan lahir batin di pundak anak.

BARIRAH (BEKAS BUDAK AISYAH R.A)
Ibnu Sa'ad meriwayatkan dalam Thabaqat nya bahwa suami Barirah adalah seorang budak berkulit hitam yang bernama Mughits. Dalam kasus pemerdekaan Barirah, Rasulullah saw memutuskan padanya empat perkara, pada saat kerabatnya menginginkan kekuasaan atasnya (Barirah) meskipun mereka tidak ikut menebusnya. Keempat perkara tersebut yaitu :
  1. Kekuasaan atas budak berada di tangan yang membebaskannya (bukan di tangan kerabatnya yang tidak ikut membebaskannya).
  2. Barirah disuruh memilih (antara suami dan dirinya), lalu dia memilih dirinya (cerai).
  3. Setelah cerai Rasulullah saw menyuruhnya ber iddah.
  4. Rasulullah saw menganjurkan para sahabatnya untuk bersedekah kepada Barirah.
Dari hasil sedekah yang diterimanya, Barirah menghadiahkan sebagian ke Aisyah. Ketika Rasulullah diberitahu tentang apa yang dilakukan Barirah, beliau berkata, "Apa yang dia terima adalah sedekah, sedang apa yang kami terima adalah hadiah."

Lebih lanjut Ibnu Sa'ad juga meriwayatkan dalam Thabaqat nya bahwa Rasulullah saw pada saat menyuruh Barirah untuk memilih antara dirinya atau suaminya, beliau menganjurkan Barirah untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Lalu Barirah bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah,apakah itu suatu kewajiban bagi saya?" Beliau menjawab, "Tidak, saya hanya kasihan pada suamimu." Barirah kembali berkata, "Tidak, saya sudah tidak membutuhkannya."

Kisah di atas membukikan bahwa islam telah memberikan kebebasan menentukan rumah tangganya, kebebasan yang mengantarkannya menuju kehidupan yang damai dan tentram. Sungguh suatu toleransi yang tak ternilai dalam sejarah umat manusia. Bagaimana tidak, penghargaan perasaan wanita ternyata lebih diprioritaskan dan dimenangkan daripada rasa kasihan (syafaat) beliau kepada seorang suami. Sungguh suatu pelajaran yang sangat berharga dari Rasulullah saw yang patut dicamkan oleh para wali dan orang tua.

Demikianlah kisah seorang budak perempuan Barirah yang diperistri oleh seorang budak kulit hitam yang tidak dicintainya karena si suami selalu menekannya sehingga si istri pun berusaha untuk lari darinya. Namun, apalah daya seorang budak. Lalu datanglah Aisyah membebaskannya dan memberikan hak kepadanya untuk menentukan nasib dirinya sebagaimana kata Rasulullah saw kepadanya, "Kamu telah berhak atas dirimu maka kamu bebas memiih!"

Satu lagi yang perlu dicatat tentan Barirah bahwasannya Abdul Malik bin Marwan suatu hari pernah duduk di sampingnya. Lalu Barirah berkata, "Wahai Abdul Malik, sesungguhnya saya melihat dalam dirimu tanda-tanda (seorang pemimpin). Camkan apa yang akan saya katakan, jika kamu diangkat menjadi pemimpin nanti, hindarilah darah (pembunuhan)! Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, "(Nanti di akhirat), sesungguhnya ada seorang laki-laki yang ditahan (masuk) dari pintu surga setelah dia melihat di depan surga segumpal darah yang ia alirkan dari seorang muslim tanpa alasan yang benar."

Baca juga nama-nama muslimah teladan sebagai istri.

* Bismillah...wellcome to Postart Alifah
* View web version untuk berkomentar, bagi yang menggunakan smartphone
* Berkomentarlah dengan bijak, and have I nice day

ARTIKEL MENARIK LAINNYA